Identifikasi “One Group Pre-test and Post-test”. Instrument used are

Identifikasi Awal Profil Self-efficacy Siswa SMA dan Upaya Meningkatkannya Melalui
Pembelajaran Fisika

Mamim Zumroatun1),
Woro Setyarsih2), dan Lydia Rohmawati

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,
FMIPA, UNESA, Alamat e-mail: [email protected]

2)Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, UNESA, Alamat
e-mail: [email protected]

 

Abstrak

Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui profil self-efficacy
siswa dan upaya meningkatkannya melalui penerapan pengajaran inkuiri pada
materi momentum, impuls dan tumbukan. Desain dalam penelitian ini adalah “One Group Pre-test and Post-test”. Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah: lembar angket self-efficacy sebagai instrumen utama dan lembar pengamatan
perilaku self-efficacy sebagai
instrumen pendukung. Subjek penelitian ini sebanyak  79 siswa kelas X. Hasil penelitian
didapatkan: (1) nilai rata-rata self-efficacy
siswa berkategori tinggi pada setiap dimensinya; (2) Nilai rata-rata perilaku self-efficacy siswa berkriteria tinggi;
(3) Terdapat hubungan positif antara self-efficacy
dengan hasil belajar.

Kata-kata kunci:
Inkuiri, Self-Efficacy, Pembelajaran Fisika.

  

Abstract

This study aims to find
out the profile of students’ self-efficacy and efforts to improve it through
the application of inquiry teaching on momentum, impulse and collision
materials. The Design in this study is “One Group Pre-test and Post-test”.
Instrument used are self-efficacy questionnaires as main instrument and self-efficacy
behavior checklists as supporting instrument. The s ubjects of this study were
79 students of class X. The results of this study indicated that: (1) the
average student self-efficacy score is high on each dimension; (2) The average
value of students’ self-efficacy behavior is high; (3) there is a positive
relationship between self-efficacy and learning outcome.

Keyword: Inquiry, Self-efficacy, learning
physics .

 

PENDAHULUAN

Penerapan Kurikulum 2013 saat ini
menuntut pembelajaran yang berbasis scientific
approach yang merupakan konsep dasar dalam melatarbelakangi perumusan
metode mengajar dengan karakteristik yang ilmiah. Permendikbud Nomor 65 Tahun
2013 tentang Prinsip Pembelajaran yang diterapkan salah satunya adalah mengubah
dari pendekatan tekstual menjadi pendekatan berbasis masalah, berbasis proyek, discovery, dan inkuiri.  Model
pengajaran inkuiri merupakan proses pembelajaran dimana siswa mengikuti metode
dan praktik dengan profesional untuk membangun pengetahuannya. Dalam model
pengajaran inkuiri siswa terlibat di dalam pembelajaran, merumuskan pertanyaan,
menginvestigasi, dan membangun sebuah pemahaman baru (Pedaste, et al, 2015;
Branch & Oberg, 2004). Dengan menerapkan inkuiri, Kurikulum 2013 menghendaki
student centered dalam pembelajaran dimana guru diharuskan untuk memperhatikan
perbedaan individu setiap siswa (Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014; Puspita,
2016). Perbedaan individu siswa dapat berupa kognitif, afektif, psikologis, dan
lain sebagainya (Makmun, 2000; Santrock, 2009). Adapun beberapa faktor
psikologis dalam diri siswa antara lain: self-efficacy,
motivasi, dan lain sebagainya (Santrock, 2009).

Banyak studi yang membahas
tentang self-efficacy didalam
pendidikan sains. Self-efficacy dalam
sains sangat mempengaruhi pembelajaran sains, pilihan sains, jumlah usaha yang
diberikan, dan ketekunan sains, selain itu self-efficacy
juga memainkan peran utama dalam proses pengambilan keputusan siswa saat
memilih sebuah profesi (Tenaw, 2013; Dou, 2017; Bernasconi, 2017). Self-efficacy tidak hanya sumber
informatif kepada siswa, tetapi juga menghasilkan self-regulatory, seperti meningkatkan belajar untuk mendapatkan
nilai yang lebih baik lagi, jika self-efficacy
siswa rendah sangat berpengaruh pada kegagalan dalam pembelajaran fisika
khusunya (Nissen dan Shemwell, 2016; Suprapto et al, 2017).

Pada dasarnya hakekat fisika,
yakni sebagai proses, produk, dan sikap perlu dijadikan sebagai dasar pemikiran
dalam pencapaian tujuan pembelajaran fisika, salah satunya dapat ditandai
dengan adanya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar siswa pada
aspek pengetahuan bisa ditentukan melalui nilai yang diberikan guru terhadap
siswa sebagai hasil proses pembelajaran fisika di sekolah.

Untuk dapat menumbuhkan atau
meningkatkan self-efficacy dan hasil
belajar siswa diperlukan model pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah
model pengajaran inkuiri. Rahayu dan Syarief (2015) menggunakan model
pengajaran inkuiri untuk meningkatkan self-efficacy
siswa dalam pembelajaran kimia, diperoleh nilai rata-rata self-efficacy mengalami peningkatan. Hal ini diperkuat oleh Jansen,
et al (2015) yang menemukan bahwa self-concept
dan self-efficacy merupakan dua
motivasi yang paling penting dari pendidikan, self-concept lebih dipengaruhi oleh prestasi teman sebaya,
sedangkan self-efficacy sangat
dipengaruhi oleh inquiry based learning.
Kock, et al (2015) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa dengan menggunakan model pengajaran inkuiri, diperoleh
pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan penelitian tersebut self-efficacy dan hasil belajar dengan
model pengajaran inkuiri sangat diperlukan dalam pembelajaran fisika, guna
menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan dan
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika khusunya.

Berdasarkan uraian di atas, maka
peneliti melakukan penelitian dengan judul “Identifikasi Awal Profil Self-efficacy Siswa SMA dan Upaya
Meningkatkannya Melalui Pembelajaran Fisika”.

 

METODE

Jenis penelitian yang digunakan
adalah pre experimental design dengan
menggunakan dua kelas yang diberi perlakuan sama. Subjek dalam penelitian ini
sebanyak 79 siswa kelas X SMAN 19 Surabaya. Penelitian dilakukan pada semester
genap 2016/2017. Desain penelitian ini adalah “One Goup Pre-test and Post-test”

O1            X             O2

 

 

Keterangan:

O1   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa sebelum perlakuan (pre-test)

X   = Perlakuan (pembelajaran dengan model pengajaran inkuiri)

O2   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa setelah perlakuan (post-test)

      Pelaksanaan
penelitian ini mempunyai tiga tahapan, yakni tahap awal, tahap pelaksanaan, dan
tahap akhir. Penelitian ini terdapat perangkat dan instrumen yang digunakan,
antara lain yaitu silabus, RPP, handout,
LKS, lembar observasi keterlaksanaan, lembar angket self-efficacy, lembar pengamatan perilaku self-efficacy, dan lembar tes.

      Data self-efficacy
dianalisis berdasarkan dimensi-dimensinya yakni dimensi magnitude, strength, dan generality.
Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan hasil belajar
siswa.

      Analisis butir soal dengan menggunakan 4
kriteria yaitu: validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda
(Arikunto, 2010). Berdasarkan uji coba soal diperoleh 19 soal valid, dan semua
soal reliabel dengan hasil perhitungan r11?rtabel yakni
0,882?0,334. Dengan mempertimbangkan 4 kriteria tersebut total soal yang
digunakan untuk evaluasi adalah 19 soal dari 22 soal yang diuji cobakan.

               

HASIL DAN PEMBAHASAN

      Analisis
data self-efficacy diperoleh melalui
dua instrumen yakni angket self-efficacy
dan pengamatan perilaku self-efficacy.
Hasil penelitian menunjukkan self-efficacy
siswa paling banyak berkriteria tinggi yakni sebesar 3% seperti yang terlihat
dalam Tabel 1. berikut:

Tabel 1. Profil Self-efficacy
Siswa

Interval
Nilai

Kriteria

Frekuensi

Persentase (%)

81-100

Sangat
Tinggi

6

9

61-80

Tinggi

58

73

41-60

Cukup
Tinggi

15

18

21-40

Rendah

Jumlah

79

100

         Berdasarkan
Tabel 1. di atas, menunjukkan siswa yang memiliki self-efficacy sangat tinggi sebanyak 6 siswa, untuk self-efficacy tinggi sebanyak 73 siswa
sedangkan untuk self-efficacy cukup
tinggi sebanyak 5 siswa. Tingkat self-efficacy
siswa dapat diidentifikasi dari dimensi self-efficacy.
Seperti yang terlihat pada Gambar 1 berikut:

Gambar
1. Gambaran Umum Self-efficacy
Siswa

Selain dari angket self-efficacy
siswa diidentifikasi melalui pengamatan perilaku self-efficacy yang diamati disetiap pertemuannya, pengamatan
perilaku self-efficacy digunakan
sebagai instrumen pendukung  dari angket self-efficacy. Hasil pengamatan perilaku
self-efficacy dapat dilihat pada Gambar
2. berikut:

Gambar 2. Hasil
Pengamatan Perilaku Self-efficacy

         Pada hasil
pengamatan perilaku diperoleh rata-rata siswa meiliki self-efficacy berkategori tinggi, hal ini mendukung hasil dari
angket bahwa rata-rata siswa memiliki self-efficacy
berkriteria tinggi. Terdapat dua anak yang tidak mengalami peningkatan saat pengamatan
perilaku self-efficacy tiap
pertemuannya, hal ini bisa terjadi dikarenakan selama proses pembelajaran siswa
tersebut tidak antusias dengan pelajaran fisika. Siswa dengan self-efficacy rendah pada pembelajaran
dapat menghindari banyak tugas belajar, khususnya yang menantang (Santrock,
2009:216). Hal ini bisa terjadi karena ada beberapa faktor penyebab seperti
keadaan fisiologis, dan emosional siswa, kecemasan yang terjadi dalam diri
siswa ketika melakukan tugas sering diartikan sebagai kegagalan (Bandura,
1997:79). Dengan demikian self-efficacy
juga penting diperhatikan dalam pembelajaran fisika (Nissen dan Shemwell,
2016).

         Banyak
studi yang membahas tentang self-efficacy
dan bagaimana cara untuk meningkatkannya, salah satu penelitian yang membahas
tentang cara meningkatkan self-efficacy
siswa adalah penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan Syarief (2015) yang
menemukan bahwa self-efficacy siswa
mengalami peningkatan setelah diterapkan model pengajaran inkuiri didalam
proses pembelajarannya. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian dari Jansen
(2015) yang menemukan bahwa self-concept
lebih dipengaruhi oleh prestasi rata-rata teman sebaya sedangkan self-efficacy lebih dipengaruhi oleh
kesempatan belajar berbasis inkuiri.

         Untuk mengetahui apakah self-efficacy memberikan konstribusi
terhadap hasil belajar siswa maka dilakukan analisis regresi linier
sederhanadan diperoleh a sebesar
-44,461 dan b sebesar 1,539 dengan
N=40 untuk X-MIA 2, sedangkan untuk X-MIA 6 diperoleh a sebesar -62,916 dan b
sebesar 1,676 dengan N=39. Apabila koefien regresi (b) bernilai positif maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
yang positif antara self-efficacy
dengan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Lindstrom dan
Sharma (2011) bahwa self-efficacy
mempengaruhi prestasi akademik siswa yang belajar fisika. Sama halnya dengan
hasil penelitian Suprapto, et al (2017) yang menyatakan bahwa self-efficacy tidak hanya sumber
informatif kepada siswa, namun self-efficacy
juga merupakan prediktor prestasi akademik. Besar kecilnya konstribusi self-efficacy terhadap hasil belajar
siswa pada kelas X-MIA 2 sebesar 50,80%  self-efficacy memberikan konstribusi
terhadap hasil belajar dan 49,20% oleh faktor lain, sedangkan pada kelas X-MIA
6 self-efficacy berkonstribusi
sebesar 41,46% dan 58,52% oleh faktor lain. Faktor lain yang mempengaruhi hasil
belajar siswa antara lain motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan
kebiasaan belajar ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (Nana
Sudjana, 2009:39).

PENUTUP

Simpulan

         Berdasarkan data hasil penelitian dan
pembahasan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy siswa rata-rata berkategori tinggi, ini juga didukung
oleh hasil pengamatan perilaku self-efficacy.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-efficacy siswa adalah dengan menerapkan model pengajaran
inkuiri. Terdapat hubungan positif
sebesar  1,539 pada kelas X-MIA 2 dan
1,676 pada kelas X-MIA 6 antara self-efficacy
dengan hasil belajar siswa setelah diterpakan model pengajaran inkuiri.

 

Saran

Dengan
memperhatikan hasil penelitian di atas agar kegiatan belajar fisika lebih baik
dan efektif bagi siswa, maka saran yang dapat diberikan adalah: penerapan model
pengajaran inkuiri mampu digunakan untuk meningkatkan self-efficacy dan  hasil
belajar siswa, untuk itu perlu diterapkan juga pada materi fisika lain yang
memiliki karakteristik cocok dengan model pengajaran inkuiri; setelah penerapan
model pengajaran inkuiri sebanyak 50,80% self-efficacy
memberikan konstribusi terhadap hasil belajar, sehingga penelitian dapat
dikembangkan lebih luas lagi untuk diteliti mengenai motivasi siswa dalam
belajar, atau kemampuan siswa dalam berkomunikasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian:
Suatu Pendekatan Praktik. Jakart: Rineka Cipta

Bandura, A. 1997. Self-efficacy: The Exercise of Control. New
York, NY: Freeman

Branch, Dr. Jennifer. and Oberd, Dr. Dianne.
2004. Focus on Inquiry. Canada:
Alberta Learning

Dou, Remy. 2017. The Interactions of Relationships, Interest,
and Self-efficacy in Undergraduate Physics. FIU Electronic Theses and Dissertations. 3228. Florida
International University. http://digitalcommons.fiu.edu/etd/3228  (online) (diunduh pada 27 September 2017)

Feantoby, Amy.
2012. The Use of the ‘Teaching as Inquiry
Model’ to Develop Students’ Self-efficacy in Literature Response Essay Writing.
Kairaranga – Volume 13, ISSUE 1: 2012 Tersedia https://Eric.Ed.Gov/?Id=EJ976662
(diunduh pada 2 Desember 2016)

Jansen, Malte. Et Al. 2015. Students’ Self-Concept and Self-efficacy
in the Sciences: Differential Relations to Antecedents and Educational Outcomes. Contemporary Educational
Psychology 41 (2015) 13–24. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 2
Desember 2016)

Kock,
Zeger-Jan. et al. 2015. Creating a Culture of Inquiry in the Classroom While
Fostering an Understanding of Theoretical Concept in Direct Current Electric
Circuit: A Balance Approach. International Journal of Science and
Mathematics Education, 13(1), 45-69. (online)(diunduh pada 7 Maret 2017).

Lindstrom,
Christine. and Sharma, Manjula D. 2011. Self-efficacy of First Year
University Physics Student: Do Gender and Prior Formal Instruction in Physics
Matter?”. International Journal of Innovation in Science and Mathematics
Education, 19(2), 1-19. (online)(diunduh pada 1 Maret 2017).

Makmun, H. Abid Syamsudin. 2000. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

Mustachfidoh,
Dkk. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri
Terhadap Prestasi Belajar Biologi Ditinjau dari Inteligensi Siswa SMA Negeri 1
Srono. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha.
(Online) Volume 3 Tahun 2013. (diunduh pada 2 Desember 2016).

Nana
Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nissen,
Jayson M. Et Al. 2016. Gender, Experience, and Self-efficacy in Introductory
Physics. Physical Review Physics
Education Research 12, 020105.

Pedaste,  Margus. Et Al. 2015. Phases of Inquiry-Based Learning:
Definitions and the Inquiry Cycle. Educational
Research Review 14 (2015) 47–61. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 9 Desember 2016 ).

Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013
Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Salinan)

Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014
Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Salinan)

Puspita, Wita Ratna. 2016. Upaya Meningkatkan Self-efficacy Melalui
Midle Learning Cycle 5E pada Pokok Bahasan Perbandingan. Jurnal Pendidikan,
(Online), ISBN. 978-602-73403-1-2,
(diunduh pada 9 Desember 2016).

Rahayu, Setyorini Puji. dan
Syarief, Sri Hidayati. 2015. Penerapan
Model Pembelajran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-efficacy Siswa pada Materi
Pokok Laju Reaksi Kelas XI-MIA di SMA Muhammadiyah 4 Sidayu Gresik.
(Online) Unesa Journal Of
Chemical Education Vol.4, No.1, Pp. 49-55, January 2015 ISSN: 2252-9454
(diunduh pada 4 Januari 2017)

Suprapto,
Nadi. et al. 2017. Conception of Learning
Physics and Self-efficacy Among Indonesian University Student. Journal of
Baltic Science Education. ISSN 1648-3898. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).

Tenaw,
Yazachew Alemu. 2013. Relationship
Between Self-efficacy, Academic Achievement and Gender in Analitycal Chemistry
at Debre Markos College of Teacher Education. AJCE, 2013, 3(1). ISSN
2227-5835. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).

 

x

Hi!
I'm Santiago!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out