BAB hal itu sangat penting sehingga dimasukkan kedalam salah

BAB II

PEMBAHASAN

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

A. Definisi
dan Pengertian Kesehatan serta Kesejahteraan

Apa itu kesehatan? Apa itu kesejahteraan? Mengapa hal
itu sangat penting sehingga dimasukkan kedalam salah satu tujuan pokok dalam
Sustainable Development Goals? Mengapa saya menghubungkan kesehatan dan
kesejahteraan dengan kemiskinan? Mari kita mulai dengan menjabarkan satu-satu
pengertian atau definisinya.

Menurut WHO (World Health Organization) kesehatan
adalah keadaan kesehatan fisik, mental dan sosial yang lengkap. Bukan hanya
keadaan dimana seseorang tidak terjangkit penyakit atau memiliki kelemahan baik
fisik maupun mental. (International Health Conference,
1948)

Kesehatan pun dimuat dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan; Pasal
1 Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan: 1. Kesehatan adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan
setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Bila saya membuat definisi saya sendiri, kesehatan
adalah keadaan kelengkapan fisik dan mental yang bisa meningkatkan
produktivitas serta kesejahteraan sosial.

Bagaimana dengan kesejahteraan? Menurut KBBI (Kamus
Besar Bahasa Indonesia), kesejahteraan berasal dari kata ‘sejahtera’, yaitu aman
sentosa dan makmur; selamat (Poerwadarminta, 1999: 887) atau juga terlepas dari segala
macam gangguan. Kesejahteraan pun dapat
diartikan sebagai kata yang menunjukkan keadaan atau kondisi yang baik.

Kesejahteraan juga biasanya dirujukkan kepada
kesejahteraan sosial, dimana Midgley (2000:11)
mendefinisikan kesejahteraan sosial sebagai “.. a condition or state of human well-being.” Kondisi sejahtera
terjadi bila kehidupan manusia aman
dan bahagia karena kebutuhan dasarnya
dapat terpenuhi seperti gizi, kesehatan, pendidikan,
tempat tinggal, dan pendapatan dapat terpenuhi, serta manakala manusia
memperoleh perlindungan dari resiko utama yang mengancam kehidupannya.

Bila kita melihat beberapa definisi di atas, bisa
dinilai bahwa kesehatan dan kesejahteraan adalah hal penting yang dapat
menjamin kebahagiaan serta keamanan dalam menjalani hidup. Tanpa kesehatan dan
kesejahteraan, disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi akan tersendat. Tidak
hanya itu, tanpa keduanya manusia tidak akan memiliki hak untuk merasa aman
karena bahkan kebutuhan dasarnya tidak bisa dipenuhi. Tanpa kesehatan dan
kesejahteraan, manusia akan susah untuk merasa bahagia dan kemauannya untuk
hidup pun akan menurun.

B.
Kesehatan dan Kesejahteraan Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Karena saya adalah penganut agama islam, dalam makalah
ini saya akan menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman sekaligus acuan
dalam membahas kesehatan hingga kemiskinan. Dalam hadits, terdapat beberapa istilah
mengenai kata ‘sehat’. Kesehatan jasmani memiliki istilah as-shihah,
sedangkan al-afiah merupakan istilah
dari kesehatan rohani. As-shihah memiliki
arti keadaan baik dimana seluruh daripada badan beserta seluruh bagiannya
terbebas dari penyakit. Tidak jauh dari itu, al-afiah diartikan sebagai sehat dan kuat.

Bila saya menyimpulkan dari beberapa kata yang berada
di atas, kesehatan itu tidak hanya terbebas dari penyakit yang menjangkit juga
dengan memiliki badan yang kuat.

Berikut ini adalah hadits dan do’a-do’a yang sering
menyebutkan kata as-shihah dan al-afiyah:

·      
Hadits
Rasulullah SAW:

??????????? ?????????? ????????? ???????? ????
???????? ?????????? ????????????. (???? ???????)

“Dua kenikmatan yang banyak manusia menjadi rugi
(karena tidak diperhatikan), yaitu kesehatan dan waktu luang”. (HR. Al-Bukhari)

·      
Do’a
duduk diantara dua sujud:

??????????  

“Dan anugerahkan kesehatan padaku”

·      
Kalimat
dalam Do’a Qunut:

?????????? ???????? ?????????  

“Dan anugerahkan kesehatan padaku sebagaimana orang
yang kau beri kesehatan”

Tidak hanya itu, kesehatan
pun juga dicantumkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Seperti yang kita ketahui,
Al-Qur’an sangatlah kaya dalam bahasa. Karena itu terdapat beberapa istilah
berbeda-beda yang disebutkan, yaitu:

1.    
As-syifa

 

Secara bahasa, as-syifa umumnya diartikan
sebagai kesembuhan karena disebut sebagai ‘mendekati pulih’, sama halnya
seperti sebelum  sakit. Kata ini dapat ditemukan dalam ayat-ayat suci
al-Qur’an sebanyak 8 kali. Salah dua diantaranya adalah:

 ??????????? ???? ?????????? ??? ???? ??????? ??????????
????????????????.

“Dan Kami
turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penyembuh dan
rahmat bagi orang yang beriman”.(QS. Al-Isra’/17; 
82).

?????? ??????????? ???????? ???????????? ????????? ???????
????????? ???????? ? ????????????? ??????????? ? ???? ???? ?????????? ???????
????? ????????? ? ??????????? ??? ??????????? ??? ?????????? ?????? ??????
?????????? ????? ? ?????????? ??????????? ???? ??????? ???????

 

 

 

“Dan jikalau Kami jadikan Al Quran itu suatu
bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa
tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing
sedang (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: “Al Quran itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak
beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan
bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang
jauh”. (QS. Al-Fushshilat, 41:44)

 

2.    
Al-Quwwah (kekuatan)

Dalam bahasa Arab Al-Quwwah memiliki arti kuat.
Kata ini bisa memiliki artian kuat dalam bentuk fisik, mental, (atau pikiran) dan
jiwa sebagaimana
yang tercantum pada Surat al-Anfaal/8: 60, 
yang berbunyi:

 

???????????? ??????
???????????????? ???? ??????? ?????? ??????? ????????? ????????????
???? ??????? ????? ????????????? ??????????? ???? ??????????.

  “Dan siapkanlah
untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda
yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak
mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada
jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan
dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al-Anfal/8; 60). 

Dan
tentunya, Rasulullah SAW pun telah bersabda: “Seorang mukmin yang kuat
lebih baik dan lebih disayangi Allah daripada mukmin yang lemah” (HR.
Muslim)

3.    
Al-Maradh (sakit)

 

Al-maradh
memiliki arti yang berlawanan dari kata as-syifa,
yang berarti ‘sakit’. Kata al-maradh
sebanyak 24 kali dicantumkan di dalam Al-Qur’an, dan kata ini memiliki hubungan
dengan sakit rohani maupun sakit jasmani.

Al-maradh
pun
dibagi jadi dua, untuk penggunaan kata al-maradh
ditunjukkan untuk penyakit rohani. Sedangkan penggunaan al-maridh ditujukan untuk penyakit
jasmani.

·      
Al-maradh (penyakit rohani)

 

 

???
???????????? ?????? ??????????? ????? ???????.

  “Dalam hati mereka ada
penyakit,) lalu Allah menambah penyakitnya itu”. (QS.
Al-Baqarah (2);10).

?        
Al-maridh (penyakit jasmani)

 

??????
????? ????????? ?????? ?????????? ??????????? ?????? ????? ????? ???????????
??????.

   “Tidak ada dosa atas
orang-orang yang buta, atas orang-orang yang pincang, dan atas orang-orang yang
sakit (apabila tidak ikut berperang)”. (QS. Al-Fath/48; 
17). (1,2)

Lalu, bagaimana dengan indikator untuk kesejahteraan
itu sendiri? Sugiharto (2007: 33) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa menurut
Badan Pusat Statistik, indikator untuk menghitung tingkat kesejahteraan ada
delapan yaitu pendapatan, pengeluaran keluarga, keadaan dan fasilitas tempat
tinggal, kesehatan keluarga, kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan,
kemudahan memasukkan anak ke jenjang pendidikan, dan kemudahan mendapatkan
fasilitas transportasi. Tidak hanya itu, Kakisina (2011: 65) pun juga
menjelaskan bahwa terdapat usaha-usaha meningkatkan kesejahteraan yaitu dengan
meningkatkan pendapatan dan mengurangi kemiskinan. Beliau memiliki kesimpulan
bahwa factor-faktor yang mempunyai korelasi positif dengan tingkat pendapatan
adalah tingkat pendidikan, beban tanggungan, biaya produksi, luas lahan yang
dimiliki dan diusahakan, pendapatan dari usaha perkebunan, dan pendapatan PNS.

 Dalam perspektif agama
Islam, disebutkan indikator dari kesejahteraan itu sendiri yaitu dalam ayat
suci Quraisy ayat 3-4:

 

?????????????? ????? ?????? ?????????

??????? ???????????? ???? ????? ??????????? ???? ??????

 

“Maka hendaklah
mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberikan
makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari
rasa takut” berdasarkan ayat di atas, maka kita dapat melihat bahwa indicator
kesejahteraan dalam Al-Qur’an tiga, yaitu menyembah Tuhan (pemilik) Ka’bah,
menghilangkan lapar dan menghilangkan rasa takut.”

Dari ayat di atas, dapat diketahui bahwa terdapat tiga
indikator kesejahteraan dalam Al-Qur’an tiga, yaitu “menyembah Tuhan
(pemilik) Ka’bah”, “menghilangkan lapar” dan “menghilangkan
rasa takut”. Atau dengan kata lain, yaitu bahwa:

 

1. Manusia bergantung
dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan cara selalu rajin beribadah kepada-Nya dengan
ikhlas dan ridho ta’ala.

2. Memenuhi kebutuhan
pangan (makanan) dengan mengonsumsi secara secukupnya.

3. Dan indikator
terakhir adalah terciptanya suasana yang aman dan damai.

 

Al-Qur’an juga masih membahas mengenai kesejahteraan
yang terdapat pada surat An Nahl ayat 97:

 “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh,
baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan
kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan kami beri
balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka
kerjakan”. Yang memiliki arti bahwa kita harus berusaha dan memperoleh
rezeki dengan cara yang halal tanpa lupa beribadah kepada Allah SWT.

Allah pasti akan menurunkan rizki kepada hamba-Nya
yang mau berlomba-lomba dalam kebaikan dan tetap mau bertawakkal kepada Allah
SWT.

Namun, kita patut berhati-hati dalam hal ‘berlomba’
ini. Karena bisa saja kita terjerumus ke dalam kesombongan ketika sudah terlalu
berfokus pada kemewahan duniawi.

Seperti yang tercantum dalam Surat At-Takatsur ayat
1-2:

“Bermegah-megahan
Telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur” (Al-Mawardi, 1982:
192). Ayat ini mengingatkan kita bahwa aspek-aspek yang sering dijadikan
indikator kesejahteraan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya dapat
membutakan orang bila tidak diiringi dengan ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Suatu hal yang menjadi kekhawatiran kita bersama adalah bahwa manusia akan
terjebak pada persaingan kemewahan duniawi. Dengan demikian, tetap mengingat
Allah merupakan indikator utama bagi kesejahteraan.

 

Tidak hanya itu, surat An-nisaa’ ayat 9 Ayat lain juga
merujuk kepada kesejahteraan:

?????????? ????????? ???? ???????? ???? ?????????? ??????????
???????? ??????? ?????????? ????????????? ??????? ????????????? ???????
????????

 

artinya adalah: 
“Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu
hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar”.

Bila disimpulkan, maka kita harus memedulikan
anak-anak dan rakyat lainnya yang membutuhkan pertolongan tanpa meninggalkan
mereka karena segan membantu.

Ayat diatas pun 
juga menganjurkan manusia untuk bekerja keras agar bisa hidup dengan
sejahtera, terhindar dari kemiskinan sebagai wujud ikhtiar dan bertawakal
kepada Allah.

 

C. Kesehatan
dan Kesejahteraan di Indonesia

Di Indonesia, masalah kesehatan masih menjadi topik
yang mengkhawatirkan. Berikut adalah beberapa masalah kesehatan yang masih
sering terjadi:

·      
Tingginya
angka kematian ibu

Hal ini biasa terjadi dengan ibu yang melahirkan tanpa
mendapatkan nutrisi yang cukup dan pelayanan kesehatan yang kurang baik,
sehingga masih banyak ibu hamil yang kurang sehat. Penyebab utama dari kematian
ibu ini biasanya dikarenakan hipertensi dan pendarahan postpartum. Tidak hanya
itu, kematian ibu juga disebabkan oleh berbagai komplikasi dan umur yang masih
sangat muda. Solusi untuk masalah ini, pemerintah memberikan berbagai
penyuluhan mengenai pentingnya asupan nutrisi yang diperlukan untuk ibu hamil.

·      
Tingginya
angka kematian anak

Kematian bayi, balita, bahkan remaja pun masih
mencapai angka yang tinggi. Penyebab utama kematian bayi adalah Intra
Uterine Fetal Death (IUFD)
dan Berat Bayi Lahir Rendah. Hal ini
dapat terjadi karena kurangnya persiapan ibu saat masih mengandung, antara lain
asupan yang kurang mencukupi nutrisi ibu dan kandungan. Bagi kematian pada
anak-anak, umumnya disebabkan oleh pneumonia dan diare yang bisa saja terjadi
karena lingkungan yang kurang terjaga kesehatannya. Kematian remaja pun
biasanya disebabkan oleh Demam Berdarah Dengue (DBD) dan tuberkulosis, di
samping kecelakaan lalu lintas. Penggunaan rokok dapat menyebabkan tuberkulosis
menjangkit. Solusi untuk penyakit bayi dan anak, pemerintah memberikan
penyuluhan kepada ibu dari saat masih mengandung tentang pentingnya menjaga
asupan nutrisi dan memperhatikan lingkungan yang baik untuk anak. Untuk
penyakit yang menyerang remaja, Unit Kesehatan Sekolah memberikan
informasi-informasi penting terkait dengan bahaya merokok.

·      
Permasalahan
gizi buruk

Di Indonesia, masalah gizi masih menjadi kepentingan
utama yang meresahkan. Bagaimana tidak? Masih banyak rakyat Indonesia yang
belum mendapatkan asupan nutrisi yang sesuai. Gizi buruk masih selalu
menghantui, hal ini pun dapat menyebabkan stunting (pertumbuhan pendek) yang
dikarenakan pola asuh kurang tepat. Stunting sifatnya berbahaya karena
memengaruhi kemampuan kognitif anak hingga nantinya akan menghambat seluruh
perkembangan dan menjadi mudah sakit. Anak-anak lah yang biasanya terjangkit
penyakit stunting, dan hal ini dapat mengganggu masa depan mereka. Solusi dari
masalah ini adalah pengadaan sosialisasi bagi seluruh masyarakat agar semua
dapat mengetahui pentingnya memperhatikan gizi bagi ibu dan anak.

·      
Meningkatnya
angka penyakit menular dan tidak menular

Masih banyak penyakit menular yang mendominasi
Indonesia, antara lain HIV/AIDS, tuberkulosis, malaria, DBD, influenza,
dan flu burung. Solusi dari pemerintah adalah sendiri adalah
melakukan pelaksanaan imunisasi seperti polio, campak, difteri, pertusis,
hepatitis B, dan tetanus. Imunisasi di Indonesia memiliki
dampak, pada tahun 2014 Indonesia telah dinyatakan bebas polio.

Penyakit
tidak menular ternyata memiliki angka yang lebih tinggi daripada penyakit
menular. Beberapa contoh penyakit tidak menular tersebut adalah hipertensi, diabetes
mellitus, kanker, dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Tidak hanya itu, rokok pun masih menjadi salah satu
penyebab tingginya angka kematian. Salah satu solusi pemerintah adalah
pelaksanaan Pos Pembinaan Terpadu Pengendalian Penyakit Tidak Menular, atau
disebut Posbindu-PTM yang memiliki tugas untuk mendeteksi dini faktor
penyakit-penyakit tidak menular yang ada di masyarakat.

Tidak hanya itu, kesejahteraan pun tampaknya masih
menjadi masalah di Indonesia. Dilansir dari beritasatu.com Irman Gusman,
Peserta Konvensi Capres tahun 2014, mengatakan bahwa tingkat kesejahteraan
penduduk negara Indonesia masih rendah dan fakta ini ditunjukkan dengan jumlah
penduduk miskin yang masih tinggi yaitu sebanyak 28.55 juta atau 14 persen.
Memang bila dilihat secara ekonomi, Indonesia masuk ke dalam 16 terbedar di
dunia karena luasnya wilayah yang ada dan jumlah penduduk terbanyak keempat di
dunia. “Namun dilihat dari pendapatan per
kapita yang mencapai US$4.900 ternyata kesejahteraan masyarakat kita masih
rendah karena baru menempati ranking ke-126 di dunia, jauh tertinggal
dibandingan Malaysia yang ada di peringkat 69, dan Thailand 92 dan Tiongkok di
peringkat 93. Bahkan kita masih di bawah Sri Lanka yang menempati ranking
116,” ucapnya ketika ditemui di
‘Meet The Press Peserta Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat’, di Jakarta
Selatan, Rabu (8/1).

Bahkan di Indonesia jumlah pengangguran pun masih
mencapai kurang lebih tujuh persen dari seluruh angkatan kerja. Bisa kita lihat
sendiri, kesenjangan sosial dan ekonomi, penyebaran infrastruktur yang tidak
merata, dan hal lainnya adalah salah satu faktor yang membuat tingkat
kesejahteraan di Indonesia masih rendah.

BAB III

PENUTUP

A.
Kesimpulan

Kesehatan dan kesejahteraan adalah dua hal yang
memiliki kesinambungan. Tanpa memiliki kesehatan, kita tidak dapat melakukan
usaha untuk mencapai kesejahteraan. Hal itu dapat membawa kita kepada
kemiskinan. Tanpa kesejahteraan, akan susah bagi kita untuk memiliki perasaan
bahagia. Indikator bahagia salah satunya adalah kesejahteraan, dan tanpa rasa
bahagia itu sendiri pun kita bisa lebih cepat terserang penyakit hati yang akan
menjalar ke pada penyakit mental, fisik, dan lainnya.

Jika berbagai macam kriminalitas seperti perampokan,
pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, dan kejahatan-kejahatan lain masih marak terjadi
di tengah masyarakat, hal itu menunjukkan bahwa masyarakat tidak mendapatkan
ketenangan, kenyamanan dan kedamaian dalam kehidupan, atau dengan kata lain
masyarakat belum mendapatkan kesejahteraan.

Kesehatan dan kesejahteraan adalah hal penting yang kita
butuhkan untuk mendukung majunya pembangunan di dunia ini, khususnya untuk
Indonesia.

B. Saran

Kesehatan dan kesejahteraan adalah hal penting yang
kita butuhkan untuk mendukung majunya pembangunan di dunia ini, khususnya untuk
Indonesia. Berbagai solusi telah diberi oleh Allah SWT, dicantumkan dalam
al-Qur’an dan bahkan telah disebar melalui hadits, kita pasti bisa memerangi
segala masalah yang ada. Tidak lupa juga dengan belajar lebih banyak,
menganalisis masalah-masalah yang ada di dunia ini. Mari kita semua dari segala
usia dan penjuru Indonesia mendukung pelaksanaan SDGs.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumantri, A. (2013). Ayat–ayat Al-Quran tentang kesehatan. Diakses pada 8 Januari 2018, dari
http://www.dragung.com/2013/02/ayatayat-al-quran-tentang-kesehatan.html

 

Saputera, I. (2012). Kesehatan dalam Konsep Al-Qur’an. Diakses pada 8 Januari 2018, dari
http://doktermuslimyonirazer.blogspot.co.id/2012/10/kesehatan-dalam-konsep-al-quran.html

KBBI, 2018.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Online Available at: http://kbbi.web.id/kemiskinan, Diakses 8 Januari 2018.

Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa
Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Achmad
Ghalib. Kuliah Kesehatan dalam Persfektif Islam (Slide Kuliah 26/09/2012).
Jakarta: 2012.

Departemen
Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, (Jakarta: Darus Sunnah, 2002), 19.

Kesejahteraan
Masyarakat Indonesia Masih Rendah. (2014).
Diakses pada 11 Januari 2018, dari http://www.beritasatu.com/politik/159441-kesejahteraan-masyarakat-indonesia-masih-rendah.html

6
Masalah Kesehatan Terbesar di Indonesia. (2017). Diakses pada 11 Januari 2018,
dari https://www.guesehat.com/6-masalah-kesehatan-terbesar-di-indonesia

 

 

 

 

 

 

x

Hi!
I'm Santiago!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out